
Samarinda, Kalimantantv.net – Memperingati Hari AIDS Sedunia 2025, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Kesehatan menegaskan komitmen untuk memperluas layanan pengobatan HIV/AIDS sekaligus menghapus stigma terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, yang mewakili Gubernur dalam acara di Kantor Gubernur Kaltim, menyampaikan bahwa keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat, tetapi juga dukungan dan penerimaan sosial dari masyarakat.
“Penanganan HIV tidak bisa hanya mengandalkan obat. Lingkungan yang mendukung dan bebas stigma sangat menentukan keberhasilan terapi,” ujar Jaya.
Dalam kesempatan itu, Jaya menegaskan tiga tujuan utama penanganan HIV/AIDS di Kalimantan Timur:
1. Semua ODAF yang terdeteksi positif harus segera mendapat pengobatan agar dapat menjalani hidup normal.
2. Stigma negatif harus dihapuskan, karena HIV bukan kutukan. Terapi antiretroviral (ARV) terbukti mampu menekan jumlah virus hingga tidak menular.
3. Tidak boleh ada infeksi baru, sehingga pasien harus rutin minum obat agar virus tetap dalam kondisi dorman.
“Dengan terapi ARV yang teratur, viral load bisa ditekan hingga tidak terdeteksi. Pada kondisi itu pasien tidak akan menularkan virus,” jelasnya.
Sepanjang 2025, Kaltim mencatat 1.018 kasus HIV dan seluruhnya telah mendapatkan penanganan. Kota Samarinda, Balikpapan, dan Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi penyumbang kasus terbanyak.
Seluruh fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas, kini menyediakan layanan dan obat HIV secara gratis tanpa syarat BPJS.
“Obatnya gratis seumur hidup. Tidak boleh dibeli. Semua tersedia di fasilitas kesehatan,” tegas Jaya.
Jaya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah penemuan kasus. Karena itu, Pemprov Kaltim memperluas akses pemeriksaan HIV mulai dari ibu hamil, calon pengantin, hingga masyarakat umum yang ingin melakukan tes secara sukarela.
Hingga akhir 2025, terdapat 158 Puskesmas berstatus PDP (Pendampingan Pengobatan) yang menyediakan layanan tes, konsultasi, dan pengambilan obat ARV.
Jaya menegaskan bahwa HIV tidak mudah menular dan hanya berisiko melalui produk darah, jarum suntik, atau hubungan seksual berisiko. Karena itu, masyarakat diminta tidak takut memeriksakan diri.
“Dengan pengobatan yang teratur, pasien bisa hidup seperti biasa. Yang penting dilakukan adalah deteksi dini,” tutupnya
(Arf/ADV/Diskominfokaltim)
Penulis : Arief
Editor : Rahman
![]()
