
Kalimantantv.net – Momentum pasca Lebaran menjadi ajang evaluasi penting bagi Pemerintah Kota Samarinda. Wakil Wali Kota Samarinda Ir. H. Saefuddin Zuhri, S.E., M.M. menekankan bahwa koordinasi lintas sektor harus diperkuat agar stabilitas harga tetap terjaga. Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri, Senin (6/4/2026). Rakor tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan diikuti Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Samarinda secara virtual.
Saefuddin menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan setengah hati. Menurutnya, perangkat daerah harus bergerak cepat, memperbaiki sistem kerja, dan memastikan pasokan bahan pokok tetap aman. “Ini harus jadi evaluasi bersama. Kita perbaiki koordinasi, percepat respons, dan benahi sistem kerja,” ujarnya.
Selain membahas inflasi, rapat juga menyinggung Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk pengawasan obat dan makanan. Catatan penting muncul dari evaluasi pemerintah pusat yang menempatkan Samarinda di peringkat terbawah dalam realisasi kinerja DAK Non Fisik BOK tahun anggaran 2025, khususnya pada pengawasan apotek dan toko obat.
Menanggapi hal tersebut, Saefuddin meminta seluruh perangkat daerah menjadikan evaluasi itu sebagai bahan pembenahan serius. Ia menekankan bahwa kendala teknis pada sistem pelaporan tidak boleh lagi menjadi alasan. “Koordinasi itu kunci. Kalau solid, semua persoalan bisa diselesaikan lebih cepat,” tambahnya.
Tak hanya fokus pada administrasi, Saefuddin juga menyoroti kondisi lapangan yang berpotensi memicu gejolak harga. Ia mencontohkan antrean panjang LPG 3 kilogram di kawasan simpang flyover Samarinda yang sempat menimbulkan keresahan masyarakat.
Selain itu, maraknya kios Pertamini turut menjadi perhatian. Saefuddin menilai perlu ada pengawasan lebih ketat, terutama terkait perizinan dan aspek keselamatan untuk mencegah risiko kebakaran. Ia meminta instansi terkait segera turun tangan agar tidak menimbulkan masalah baru.
Di sektor pangan, laporan terbaru menunjukkan stok ayam broiler beku mulai menipis akibat kendala distribusi dan pembatasan pasokan dari produsen. Saefuddin mengingatkan agar semua pihak bergerak cepat memperkuat koordinasi lintas sektor. “Jangan sampai ini jadi tekanan harga baru. Stabilitas harus kita jaga agar ekonomi daerah tetap tumbuh,” pungkasnya. (scr)
Penulis : Suci
Editor : Arief
![]()
