KALTIMKutai KartanegaraNewsSamarinda

TEKNOLOGI, AI DAN ADAB MANUSIA

“Mahasiswi itu memperlihatkan hasil tugasan dari Dosen yang dibuat dengan bantuan perangkat cerdasnya”
“Keren sekali, ini tugas matkul tadi pagi ya … cepet bener ngerjain, pasti pake AI, sahut temannya”
“Ya ialah sejuta alasan ditumpahkannya, tenang Dosen kita kan senang visualisasi yang menarik aja, beliau juga agak “gaptek” “produk 70an” lagi, katanya sambil seruput kopi kekinian dan senyum-senyum manis manja.

Penyebutan mahasiswa disini bermakna ya pelajar, siswa jua termasuk santri. Begitu juga dosen tak lain bermakna pendidik ya guru, ustadz, ustazah, tutor ya sebutan lain orang yang mumpuni dalam mengajar.

Sepenggal cuplikan obrolan ini memperlihatkan ceruk yang dalam kepada kita sebagai mahasiswa ‘veteran’. Dulu si mahasiswa veteran berkutat buku dan tumpukan catatan dipojok-pojok ruang pustaka, laboratorium, berdiskusi dengan sesama hingga larut, bertanya dengan dosen walaupun dentuman bunyi suara agak tinggi bahkan tinggi sekali darinya “masa gitu aja tidak bisa”, “baca lagi bukunya”, “belajar lagi” dan hentakan suara lainnya kita terima dan rasakan hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen tercinta kita. Mahasiswa sekarang kurang bahkan tidak merasakan atmosfir tersebut. Ya, karena mereka berada dalam zaman hiruk pikuk teknologi, mereka generasi milenial, generasi yang nyaris bergantung penuh dengan teknologi itu sendiri.

Peradaban manusia sedang memasuki babak kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah memungkinkan mesin mengolah informasi, menghasilkan pengetahuan, menyusun argumentasi, dan membantu pengambilan keputusan dengan kecepatan yang melampaui kemampuan manusia dalam berbagai tugas tertentu. Namun, di tengah kekaguman terhadap kemajuan tersebut, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah kemajuan kecerdasan teknologi juga diikuti oleh kemajuan akhlak dan adab manusia?. Bagaimana tidak dengan mudahnya si “mahasiswi dengan senyum manis manja” tadi berujar “gaptek” dan “produk 70an” kepada Dosen yang ber-sanad ilmu jelas? Pertanyaan ini mengandung persoalan penting tentang arah peradaban. Ya, teknologi telah berhasil memperpendek jarak, mempercepat kerja, dan memperluas akses pengetahuan. Bersyukur mereka berada di zaman ini, jangan iri hati kita mahasiswa veteran ya. Akan tetapi, teknologi ternyata belum tentu membuat manusia semakin jujur, bijaksana, bertanggung jawab, atau mampu menghormati sesamanya.

*Ilmu yang Bertambah, tetapi Apakah Adab Ikut Berkembang?*

Di ruang digital, kita menyaksikan paradoks yang semakin nyata. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi kesalahpahaman dan manipulasi juga berkembang. Kemampuan berkomunikasi meningkat, tetapi penghinaan dan ujaran kebencian tetap berlangsung. Pengetahuan semakin mudah diperoleh, tetapi integritas dalam menggunakannya justru menghadapi tantangan baru. Dalam situasi inilah pemikiran Imam Al-Ghazali, seorang pemikir besar dalam tradisi intelektual Islam, menemukan relevansinya. Hubungan antara ilmu termasuk teknologi digital, amal, akhlak, dan pembentukan jiwa manusia memberikan landasan penting untuk menilai perkembangan peradaban modern. Beliau mengingatkan bahwa penguasaan ilmu tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk mengamalkannya secara benar. Pengetahuan yang tidak membentuk perilaku dan karakter tidak otomatis membawa manusia menuju kebaikan. Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika manusia mulai hidup berdampingan dengan teknologi yang dapat menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak memiliki tanggung jawab moral sebagaimana manusia.

Salah satu persoalan mendasar dalam peradaban digital adalah kecenderungan “menyamakan” banyaknya informasi dengan kedalaman ilmu, serta “menyamakan” kemampuan intelektual dengan kebijaksanaan. Padahal, seseorang yang mengetahui banyak hal belum tentu mampu menggunakan pengetahuannya secara benar. Dalam _Ayyuha al-Walad_, Al-Ghazali memberikan penekanan kuat pada hubungan antara ilmu dan amal. Pengetahuan tidak cukup berhenti pada pemahaman intelektual, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan yang membawa manusia menuju kebaikan. Pandangan tersebut menempatkan ilmu sebagai sarana pembentukan manusia, bukan sekadar alat memperoleh kedudukan, kekuasaan, atau keuntungan.

Kita tarik pemikiran ini ke dalam konteks AI, kita dapati persoalan yang sangat relevan. Si mahasiswi, mungkin mampu menyelesaikan tugas menggunakan AI dalam waktu singkat, tetapi belum tentu memahami persoalan yang dibahas. Seorang dosen/peneliti mungkin mampu menghasilkan naskah yang tampak ilmiah dengan bantuan teknologi, tetapi kualitas akademiknya tetap bergantung pada ketepatan data, ketelitian analisis, dan kejujuran intelektual. Sistem digital dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak dengan sendirinya membentuk tanggung jawab moral penggunanya. Di sinilah terlihat bahwa persoalan utama bukan semata-mata kemampuan teknologi menghasilkan pengetahuan, melainkan kemampuan manusia mempertanggungjawabkan pengetahuan tersebut. Dalam kerangka pemikiran Al-Ghazali, penguasaan ilmu semestinya diikuti oleh perbaikan amal dan akhlak. Karena itu, keberhasilan pemanfaatan AI tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan peningkatan produktivitas, tetapi juga melalui kualitas manfaat yang dihasilkan dan integritas proses yang ditempuh. Kecerdasan memungkinkan manusia mengetahui apa yang dapat
dilakukan, tetapi adab membimbing manusia memahami apa yang seharusnya dilakukan.

*AI dan Persoalan Kecerdasan Tanpa Nurani*

Kehadiran AI menghadirkan persoalan filosofis yang menarik. Untuk pertama kalinya dalam skala yang begitu luas, manusia menggunakan sistem yang mampu menghasilkan bahasa, argumentasi, dan berbagai bentuk karya intelektual tanpa memiliki pengalaman moral seperti manusia. AI dapat menghasilkan nasihat tentang kejujuran tanpa menjadi pribadi yang harus mempertanggungjawabkan kejujurannya. AI dapat menjelaskan makna empati tanpa mengalami hubungan kemanusiaan sebagaimana manusia. AI juga dapat menyampaikan uraian tentang akhlak, tetapi uraian tersebut tidak berarti bahwa mesin telah memiliki karakter moral. Perbedaan ini penting karena manusia tidak boleh kehilangan kesadaran mengenai kedudukannya sebagai subjek yang bertanggung jawab.

Dalam _Ihya’ Ulum al-Din_, Al-Ghazali memandang akhlak bukan sekadar pengetahuan mengenai baik dan buruk. Akhlak berkaitan dengan keadaan jiwa yang tertanam kuat sehingga seseorang cenderung melakukan tindakan tertentu dengan mudah dan konsisten. Dengan demikian, pembentukan akhlak membutuhkan proses yang jauh lebih mendalam daripada kemampuan menyampaikan kalimat yang benar atau santun. Seseorang dapat mengetahui bahwa menyebarkan fitnah adalah perbuatan tercela, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu mencegahnya melakukan fitnah. Seseorang dapat memahami pentingnya kejujuran, tetapi masih mungkin memanipulasi informasi demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Demikian pula dalam penggunaan AI. Kemampuan menghasilkan jawaban yang benar tidak otomatis membentuk karakter yang benar. Perkembangan AI justru memperlihatkan semakin jelasnya perbedaan antara kecerdasan sebagai kemampuan mengolah informasi dan kebijaksanaan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan secara bertanggungjawab. Oleh karena itu, manusia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang terampil, ia juga harus memiliki kematangan moral untuk menentukan tujuan, batas, dan konsekuensi penggunaannya. Mesin dapat membantu manusia berpikir, tetapi tanggung jawab untuk menilai dan bertindak secara bermoral tidak boleh dilepaskan dari kodrat manusia.

*Adab, Pengendalian Diri, dan Godaan Dunia Digital*

Salah satu gagasan penting Al-Ghazali dalam pembentukan akhlak adalah _riyadhat al-nafs_, yaitu latihan dan pendisiplinan jiwa. Melalui pendekatan ini, karakter manusia tidak dipandang sebagai sesuatu yang terbentuk secara tiba-tiba. Akhlak yang baik memerlukan pembiasaan, pengendalian dorongan diri, ketekunan, serta kesadaran untuk memperbaiki perilaku. Pemikiran tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kehidupan digital. Teknologi modern dirancang untuk menghadirkan kecepatan dan kemudahan. Informasi dapat diperoleh seketika, pendapat dapat disebarluaskan dalam hitungan detik, dan berbagai bentuk pengakuan sosial dapat dicari melalui ruang digital. Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan godaan yang semakin besar bagi manusia. Keinginan untuk memperoleh perhatian dapat mendorong seseorang menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Hasrat untuk mendapatkan pengakuan dapat menyebabkan seseorang mengutamakan pencitraan dibandingkan kejujuran. Dorongan untuk menyelesaikan pekerjaan secara instan dapat mengurangi kesediaan untuk belajar, membaca, dan berpikir secara mendalam. Bahkan, AI dapat digunakan untuk memperkuat perilaku tersebut apabila manusia hanya mengejar hasil tanpa memperhatikan proses.

Di sinilah relevansi latihan jiwa sebagaimana ditekankan Al-Ghazali. Dalam kehidupan digital, pengendalian diri dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana tetapi bermakna: memeriksa informasi sebelum membagikannya, menahan diri dari penghinaan, menghargai privasi, mengakui keterbatasan pengetahuan, dan tidak menggunakan AI untuk menyembunyikan ketidakjujuran. Adab digital bukan sekadar seperangkat aturan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di internet. Adab digital merupakan manifestasi karakter manusia ketika berhadapan dengan kemudahan, kebebasan, dan kekuasaan yang diberikan teknologi. Semakin mudah teknologi memungkinkan manusia melakukan sesuatu, maka semakin penting kemampuan manusia mengendalikan dirinya sebelum bertindak.

*Data, Dosa, dan Moralitas dalam Dunia Tanpa Batas*

Buku ini mengundang refleksi mengenai hubungan antara perkembangan teknologi dan tanggung jawab moral manusia. Ketiga istilah dalam judul tersebut dapat dibaca sebagai gambaran tantangan peradaban modern. Data mencerminkan kekuatan informasi yang semakin menentukan berbagai aspek kehidupan. Dosa mengingatkan adanya dimensi moral dalam setiap tindakan manusia (_jejak digital_). Sementara itu, dunia digital menggambarkan ruang baru tempat manusia berinteraksi melampaui batas geografis, waktu, dan berbagai batas sosial konvensional. Hubungan antara ketiganya memperlihatkan bahwa tidak hanya persoalan teknologi semata tetapi juga menyangkut integritas manusia sebagai penggunanya. Sekalipun sistem digital mungkin memiliki perlindungan keamanan yang kuat, tetap ada celah yang dapat disalahgunakan oleh manusia yang tidak memiliki tanggung jawab moral.

AI dapat digunakan untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian, tetapi ia juga dapat dimanfaatkan untuk menciptakan informasi palsu, meniru identitas seseorang, memanipulasi gambar dan suara, atau menyebarkan tuduhan yang merusak martabat orang lain. Dalam perspektif Al-Ghazali, hubungan antara tindakan lahiriah dan keadaan batin manusia itulah persoalannya. Kejujuran, kesombongan, ketamakan, kedengkian, dan tanggung jawab bukan persoalan yang muncul hanya setelah ditemukannya teknologi. Semuanya telah menjadi bagian dari pergulatan moral manusia sepanjang sejarah. Teknologi digital tidak menciptakan seluruh kelemahan moral tersebut, tetapi dapat memperluas jangkauan dan memperbesar dampaknya. Kebohongan yang dahulu mungkin hanya didengar segelintir orang kini dapat tersebar kepada jutaan pengguna. Penghinaan yang sebelumnya terbatas pada percakapan langsung kini dapat tersimpan dan menyebar secara terus-menerus. Perlindungan data pribadi, penghormatan terhadap hak orang lain, kejujuran dalam menyampaikan informasi, dan tanggung jawab atas tindakan digital merupakan bagian dari upaya menjaga martabat manusia. Teknologi membutuhkan sistem keamanan, tetapi masyarakat digital juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas.

*Pendidikan, AI, dan Pembentukan Karakter Manusia*

Jika pemikiran Al-Ghazali menempatkan ilmu sebagai jalan pembentukan akhlak, maka dunia pendidikan memiliki tanggung jawab yang semakin besar di tengah perkembangan AI. Dosen sebagai pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan dan penguasaan teknologi namun perlu memperluas pendekatan pedagogis. Pendidikan harus membentuk kemampuan berpikir, kepekaan moral, pengendalian diri, serta tanggung jawab sosial. Dalam praktik pendidikan modern, AI memiliki potensi yang sangat besar untuk memperkuat proses pembelajaran.

“Kopi kekinian si Mahasiswi masih setengah, ia lanjut lihat tugasnya, “isinya biar di cek dosen … kan tugasnya, bisik ia ketemannya”. Bagi mahasiswa, AI dapat digunakan untuk memahami konsep yang sulit, mengembangkan gagasan, membandingkan pendekatan ilmiah, dan meningkatkan kemampuan menulis. Namun, seluruh manfaat tersebut akan kehilangan makna apabila teknologi justru mengurangi kejujuran intelektual dan kemandirian berpikir. Ketika mahasiswa hanya mengejar jawaban yang cepat, proses pembelajaran berisiko kehilangan kedalaman. Ketika karya yang dihasilkan AI diakui sepenuhnya sebagai hasil pemikiran pribadi tanpa kontribusi intelektual yang memadai, integritas
akademik menjadi persoalan.

Ketika kemudahan teknologi digunakan sebagai alasan untuk menghindari proses membaca, menelaah, dan memahami, pendidikan dapat kehilangan sebagian fungsi pembentukan manusianya. Ini menunjukkan adanya jarak antara penguasaan pengetahuan dan pembentukan akhlak. Karena itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan seharusnya disertai pembiasaan nilai-nilai kejujuran, ketekunan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap karya intelektual. Mahasiswa perlu diajarkan bukan hanya bagaimana memperoleh jawaban dari AI, tetapi juga bagaimana menguji ketepatannya, mengenali keterbatasannya, serta mempertanggungjawabkan hasil penggunaannya. Demikian pula, dosen tidak cukup hanya mengajarkan kecakapan digital. Keteladanan dalam kejujuran akademik, kedisiplinan berpikir, keterbukaan terhadap kritik, dan penghargaan terhadap kebenaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan karakter. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan sekadar banyaknya informasi yang dikuasai atau cepatnya tugas diselesaikan, tetapi kemampuan mahasiswa mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang benar dan bermanfaat. Pendidikan yang baik semestinya melahirkan manusia yang cerdas dalam berpikir sekaligus matang dalam bersikap.

*Dari Kecerdasan Buatan Menuju Kebijaksanaan Manusia*

Pemikiran Al-Ghazali juga memberikan ruang untuk memahami bahwa kemajuan pengetahuan tidak selalu identik dengan kemajuan moral. Dalam _Mizan al-‘Amal_ dan _Ihya’ Ulum al-Din_, pembahasan mengenai kebajikan dan tindakan manusia memperlihatkan pentingnya pembentukan karakter sebagai bagian dari kehidupan yang baik. Gagasan ini mengajak kita menilai perkembangan teknologi tidak hanya dari hasil yang dapat diukur secara teknis, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan manusia. AI dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan, tetapi apakah efisiensi tersebut juga meningkatkan keadilan dan kesejahteraan? Teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi apakah hubungan antarmanusia menjadi lebih bermakna? Sistem digital dapat memberikan rekomendasi keputusan, tetapi apakah keputusan tersebut tetap memperhatikan martabat, hak, dan kepentingan pihak yang terdampak?. Pertanyaan-pertanyaan demikian menunjukkan bahwa masa depan AI bukan hanya persoalan pengembangan algoritma, melainkan juga persoalan arah nilai yang melandasi penggunaannya.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, arah tersebut perlu dihubungkan dengan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana terkandung dalam Pancasila. Kemanusiaan yang beradab menghendaki agar perkembangan teknologi tidak menjadikan manusia sekadar objek pengumpulan data, sasaran manipulasi, atau instrumen kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas kehidupan, memperluas kesempatan memperoleh pengetahuan, memperkuat pelayanan publik, serta mewujudkan keadilan sosial. Landasan pemikiran ini dapat memberikan kontribusi yang saling memperkaya dalam membangun budaya penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

*Menjaga Adab di Tengah Kemajuan Peradaban*

Kehadiran AI tidak perlu dipandang sebagai ancaman yang harus ditolak. Teknologi merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan dan kreativitas manusia yang dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Namun, kemajuan tersebut perlu disertai kesadaran bahwa tidak semua hal yang dapat dilakukan secara teknis layak dilakukan secara moral. Manusia memerlukan ilmu untuk memahami dunia, tetapi juga membutuhkan adab untuk menentukan cara memperlakukan dunia dan seisinya.

Dalam pemikiran Al-Ghazali, pendidikan dan pembentukan akhlak menuntut keterhubungan antara pengetahuan, kesadaran batin, dan tindakan nyata. Pandangan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kecerdasan bukanlah tujuan akhir kehidupan manusia. Tujuan yang lebih mendasar adalah bagaimana ilmu digunakan untuk menghadirkan kebaikan, membangun kehidupan yang bermartabat, dan menghindarkan manusia dari tindakan yang merugikan dirinya maupun orang lain. Di tengah perkembangan AI, tantangan terbesar kita bukan semata-mata bagaimana menghadirkan teknologi yang semakin menyerupai kecerdasan manusia, tetapi bagaimana menjaga agar manusia tetap memiliki kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kemampuan mengendalikan diri. Sebab, teknologi dapat memperluas kemampuan manusia, tetapi tidak dapat menggantikan kewajiban manusia untuk membentuk karakter dan mempertanggungjawabkan tindakannya. Kita dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun pemikiran, tetapi tidak semestinya menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya. Kita dapat memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pekerjaan, tetapi tidak boleh mengorbankan kejujuran demi kecepatan.

“terburu ku tengok si mahasiswi menutup perangkat cerdasnya, ia mengajak temannya masuk ke kelas dengan senyum yang masih sama”. Nak, pesan ini aku sampaikan dan diingat baik-baik “Kita dapat memasuki ruang digital yang nyaris tanpa batas, tetapi tetap membutuhkan batas moral dalam bertindak. Sekolahmu tidak cukup dibangun melalui kecerdasan, tetapi juga membutuhkan keluhuran akhlak, AI dapat membantumu menjadi semakin cerdas, tetapi hanya dirimu dan generasimu yang dapat mengambil tanggung jawab untuk menjadi semakin beradab”. Biarlah kami mahasiswa veteran ini menjadi saksi langkahmu memajukan dan menjaga adab peradaban. (hvd/Ed)

Penulis : Prof. Ir. Haviluddin, PhD
Guru Besar Informatika dan Sains Data Universitas Mulawarman & Ketua PWISNU Kalimantan Timur

Loading

Kalimantan TV

Kalimantantv.net Merupakan portal berita yang memberiakan informasi akurat dan terpercaya, Seputarnusantara.net tidak hanya menerbitkan portal berita online, kami juga menerbitkan buletin / tabloid mingguan yang kami rangkum dalam waktu 1 minggu terakhir.

Artikel lainnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


Back to top button