DP2KB KUKAR BENTUK KONSELOR SEBAYA DI SEKOLAH, SASAR REMAJA HINGGA 24 TAHUN

Sekretaris DP2KB Kukar, Sri Lindawati. (Foto: KTV)
TENGGARONG — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat edukasi kepada remaja melalui program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
Program tersebut menyasar remaja usia 10 hingga 24 tahun, khususnya mereka yang belum menikah. PIK-R dikembangkan di lingkungan sekolah maupun masyarakat dengan melibatkan remaja sebagai konselor sebaya.
Sekretaris DP2KB Kukar, Sri Lindawati, mengatakan pendekatan tersebut dilakukan karena remaja terkadang lebih nyaman menyampaikan persoalan kepada teman seusianya dibandingkan kepada orang dewasa.
“Walaupun ada guru BK di masing-masing sekolah, biasanya ada faktor keengganan atau malu untuk menyampaikan permasalahan. Misalnya masalah belajar, hubungan pertemanan, maupun persoalan berpacaran,” kata Sri.
Melalui PIK-R, remaja yang terpilih sebagai pengurus akan mendapatkan pembekalan dan pembinaan untuk menjadi konselor sebaya.
Mereka diharapkan mampu menjadi penghubung bagi teman-temannya sekaligus menyampaikan edukasi mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan remaja.
“Siapa nanti yang terpilih menjadi pengurus PIK-R di sekolah, kita berikan pembekalan dan pembinaan. Mereka nantinya secara masif dan intens menyampaikan, menyuarakan, menjadi perpanjangan program pemerintah kepada sasaran yang ada di sekolah,” ujarnya.
Sri menjelaskan, materi yang dibawa dalam program tersebut antara lain pencegahan penyalahgunaan narkotika, seks bebas, serta pernikahan dini.
Menurutnya, edukasi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan stunting. Sebab, remaja merupakan calon orang tua yang nantinya akan membentuk keluarga.
“Remaja ini nantinya adalah cikal bakal yang akan menjadi keluarga. Jadi dari sekolah, upaya kita adalah bagaimana menanamkan kepada remaja supaya mereka bisa menjadi konselor sebaya untuk seusianya,” jelasnya.
Dari program PIK-R tersebut, DP2KB Kukar juga mendorong lahirnya Duta Generasi Berencana (Genre). Setiap tahun, program tersebut dikembangkan melalui berbagai kegiatan dan kompetisi yang mendorong remaja menghasilkan inovasi terkait isu kependudukan dan kesehatan reproduksi.
Tantangannya, kata Sri, adalah bagaimana para remaja mampu membawa gagasan dan inovasi yang dapat diterapkan untuk mencegah perilaku berisiko di kalangan seusianya. (Adv)
Penulis: Hanafi
Editor: Tio Andriano
![]()