STUNTING KUKAR MASIH BERGERAK, PENCEGAHAN KINI MENYASAR REMAJA HINGGA CALON IBU

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah. (Foto: KTV)
TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperluas strategi penanganan stunting dengan tidak hanya berfokus pada anak yang telah mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya pencegahan kini dilakukan sejak jauh sebelum kehamilan, termasuk menyasar remaja putri dan calon pengantin.
Langkah tersebut menjadi bagian dari intervensi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar di tengah perkembangan angka stunting yang masih terus dipantau setiap bulan.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan hasil pemantauan pada September 2026 menunjukkan angka stunting berada di level 12,6 persen. Angka itu turun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sekitar 14 persen.
Meski demikian, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai hasil akhir. Perubahan masih sangat mungkin terjadi seiring proses pengukuran dan pemantauan terhadap anak yang menjadi sasaran.
“ Kita selalu melakukan pengukuran setiap bulan supaya pergerakannya kelihatan. Mana misalnya yang masih waspada, masih merah, nantinya masih tinggi, itu kita intervensi. Jadi nanti di Desember baru kelihatan totalnya,” ujar Ismi, Sabtu (3/10/2026).
Menurut Ismi, dari angka yang tercatat tersebut terdapat sekitar 0,8 persen kasus baru. Sementara anak yang sebelumnya telah masuk dalam pendataan tetap menjadi bagian dari pemantauan pada bulan berikutnya.
Karena itu, penanganan tidak dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh anak. Intervensi disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan dan kebutuhan masing-masing sasaran.
Pengukuran Jadi Dasar Intervensi
Dinkes Kukar melakukan pemantauan melalui pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.
Pemeriksaan mencakup berat badan serta tinggi atau panjang badan bayi dan balita.
Sebagian besar proses pengukuran dilakukan melalui posyandu. Pemeriksaan juga dapat dilakukan di puskesmas ketika orang tua membawa anak untuk memperoleh layanan kesehatan.
Ismi menegaskan, penentuan kondisi stunting tidak cukup hanya melihat kondisi fisik anak. Data hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan usia dan standar pertumbuhan yang berlaku.
“Yang dicek pasti angka pertumbuhan dan perkembangannya. Makanya untuk melakukan pengukuran stunting kita lakukan pengukuran secara serentak,” jelasnya.
Dengan pola pemantauan tersebut, anak yang mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pertumbuhan dapat segera diidentifikasi. Pemerintah kemudian dapat menentukan bentuk intervensi yang sesuai sebelum kondisinya berkembang lebih jauh.
Pencegahan Dimulai Sebelum Kehamilan
Dinkes Kukar juga menempatkan pencegahan sebagai bagian penting dalam strategi penurunan stunting. Intervensi bahkan diarahkan kepada kelompok yang belum memasuki fase kehamilan.
Remaja putri menjadi salah satu sasaran melalui program pemberian tablet tambah darah di tingkat SMP dan SMA. Program ini ditujukan untuk membantu mencegah anemia yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi.
Selain itu, edukasi diberikan kepada calon pengantin agar memahami pentingnya mempersiapkan kondisi kesehatan sebelum memasuki kehamilan.
“Upayanya banyak. Tidak hanya pada kasus yang sudah stunting, tapi kita lebih pada upaya mencegah,” kata Ismi.
Menurutnya, kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Karena itu, intervensi tidak seharusnya baru dilakukan ketika seorang anak telah mengalami gangguan pertumbuhan.
Ibu hamil dengan kondisi kurang energi kronis atau membutuhkan perhatian khusus juga dapat memperoleh intervensi, salah satunya melalui pemberian makanan tambahan.
Langkah tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan kondisi kesehatan ibu sehingga kebutuhan tumbuh kembang janin dapat terpenuhi secara lebih optimal.
Ismi menilai fase sebelum stunting terjadi merupakan periode yang sangat penting dalam upaya pencegahan.
“Yang lebih penting itu mencegah terjadi stunting. Kalau sudah kena stunting, pemberian makanan tambahan mungkin akan bisa berhasil, tapi sebenarnya kesempatan emasnya itu sebelum itu terjadi,” tandasnya.
Dengan pendekatan tersebut, penurunan angka stunting di Kukar tidak hanya bergantung pada penanganan kasus yang sudah muncul, tetapi juga pada konsistensi pencegahan sejak remaja, masa persiapan pernikahan, kehamilan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
Penulis: Hanafi
Editor: Tio Andriano
![]()