SAFARI SUBUH KUKAR TEMBUS 300 KALI, PEMKAB DORONG MASJID JADI PUSAT PENYELESAIAN MASALAH SOSIAL

(Tengah) Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, Sunggono Kasnu. (Foto: KTV)
TENGGARONG – Program Safari Subuh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah memasuki pelaksanaan sekitar 300 kali. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana mendekatkan pejabat pemerintah dengan masyarakat, tetapi juga mendorong masjid mengambil peran lebih luas dalam kehidupan sosial.
Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, mengatakan Safari Subuh menjadi salah satu cara membangun komunikasi langsung antara pemerintah dan warga. Melalui kegiatan tersebut, pejabat dapat bertemu masyarakat sekaligus mendengarkan persoalan yang berkembang di lingkungan mereka.
“Tujuannya untuk mendekatkan antara pejabat dengan masyarakatnya,” ujar Sunggono.
Menurutnya, pelaksanaan Safari Subuh juga melibatkan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat fungsi masjid agar tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga ruang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Sunggono menilai masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Karena itu, keberadaan masjid diharapkan dapat membantu mengidentifikasi persoalan warga serta mendorong upaya penyelesaian melalui kerja sama berbagai pihak.
“Masjid-masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat menyelesaikan masalah-masalah sosial di masyarakat,” katanya.
Dia menegaskan, keberadaan masjid semestinya memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Fungsi sosial tersebut dapat diperkuat melalui keterlibatan pengurus masjid, tokoh masyarakat, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan.
Dalam pelaksanaannya, Safari Subuh juga menjadi ruang untuk memperkenalkan program-program pemerintah daerah kepada masyarakat. Melalui pertemuan langsung, warga diharapkan dapat mengetahui berbagai program yang tersedia sekaligus menyampaikan kebutuhan di lingkungan masing-masing.
Sunggono menyebut kolaborasi antara pemerintah, DMI, dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam menjalankan kegiatan tersebut. Pemerintah membawa program pembangunan, sedangkan pengurus masjid dan masyarakat dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan serta menggerakkan partisipasi warga.
“DMI dengan program-programnya, kemudian masyarakat melalui tempat ibadah, dan pemerintah dengan program-program yang ada. Semuanya bisa berkolaborasi,” ujarnya.
Dengan pelaksanaan yang telah mencapai sekitar 300 kali, Safari Subuh diharapkan tidak berhenti sebagai agenda kunjungan rutin. Pemerintah ingin kegiatan ini menjadi sarana membangun kedekatan, memperkuat komunikasi, dan mendorong masjid berperan aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui sinergi tersebut, masjid diharapkan semakin berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus ruang pemberdayaan dan kepedulian sosial di Kabupaten Kutai Kartanegara. (ADV)
Penulis: Pradika Danang
Editor: Tio Andriano
![]()