
Kalimantantv.net – Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kalimantan Timur yang akan berlangsung pada 16-17 Mei 2026, sejumlah tokoh Sulawesi Selatan di Kaltim menyoroti arah pembaruan organisasi. Forum Pemuda Sulawesi Selatan (FPSS) menggelar diskusi di Samarinda dengan menghadirkan Prof. Bohari Yusuf, Rusman Ya’qub, dan Ridwan Tassa. Mereka menekankan pentingnya figur pemimpin yang mampu memadukan nilai budaya dengan orientasi modern agar KKSS tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Prof. Bohari Yusuf menegaskan bahwa budaya dan modernisasi tidak boleh dipertentangkan. “Selalu keliru kalau kita hanya mengangkat sosial budaya tapi lupa modernisasi. Sebaliknya ketika kita mengusung modernisasi, kita justru melupakan akar budaya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pemimpin KKSS harus memahami akar budaya Sulawesi Selatan sekaligus menghormati budaya lokal Kalimantan Timur.
Rusman Ya’qub menilai Muswil IX menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi lima tahun ke depan. Ia menekankan perlunya regenerasi kepemimpinan dengan memberi ruang lebih besar kepada generasi muda. “Kalau perlu minimal 50:50 antara senior dan anak muda. Itu bagian dari estafet kepemimpinan,” katanya.
Sementara itu, Ridwan Tassa, Ketua Harian BPW KKSS Kaltim, menyoroti perjalanan panjang organisasi dan menyebut perlunya perubahan pola kepemimpinan dari ketergantungan pada figur menuju sistem kolaboratif. Ia menilai KKSS harus memiliki sekretariat permanen sebagai pusat aktivitas organisasi. “Kalau tidak ada sekretariat, sulit membangun organisasi yang kuat,” ujarnya.
Ridwan juga menyatakan kesiapannya maju dalam Muswil IX KKSS Kaltim. Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, ia menilai dirinya memahami dinamika internal organisasi. “Insyaallah saya siap untuk meluangkan waktu menyumbangkan pikiran dan tenaga saya. Apalagi sekarang saya sudah pensiun, sehingga bisa lebih fokus,” katanya.
Selain sekretariat, Ridwan menilai pembentukan yayasan menjadi kebutuhan penting. Yayasan tersebut diharapkan mampu mendukung pembiayaan kegiatan organisasi sekaligus memperkuat ekonomi warga KKSS. “Yayasan itu kebutuhan. Melalui yayasan kita bisa melakukan berbagai upaya pembiayaan kegiatan organisasi,” ujarnya.
Ridwan juga menekankan pentingnya menjaga nilai budaya Sulawesi Selatan di tengah kehidupan masyarakat perantauan. Ia menilai generasi muda perlu mendapat pembinaan agar tidak kehilangan akar budaya. “Harus ada program kerja yang secara khusus membina generasi muda supaya nilai-nilai budaya itu tetap bisa kita lestarikan,” katanya.
Dengan berbagai gagasan tersebut, Muswil IX KKSS Kaltim dipandang sebagai momentum penting untuk memperkuat sistem kelembagaan, memastikan nilai budaya tetap menjadi fondasi utama, sekaligus mendorong organisasi agar lebih modern dan berkontribusi nyata bagi masyarakat Kalimantan Timur.(scr)
Penulis : Suci
Editor : Arief
![]()